#Satu Paling Ujung Dari Tujuh
Ketika sebuah peluh, lelah serta pantang menyerah
dalam satu lingkaran putaran bumi, dimana matahari terbit dari timur dan
tenggelam di sebelah barat ada terselip diantara doa-doa yang di panjatkan. Doa
yang senantiasa mewarnai sebuah kehidupan untuk menjadi yang lebih baik lagi.
Yah, tepat malam minggu yang lalu 20 april 2013 saya putuskan untuk berbagi
cerita dengan teman pencerita, tepat sebelum saya melaksanakan sujudku 3 rakaat
untuk Sang Pencipta saya sudah tiba di salah satu tempat kami berbagi cerita,
karena memang beberapa hari sebelumnya sudah kita rencanakan untuk datang ke
sebuah festival untuk berbagi cerita dengan teman pencerita. Dan akhirnya ba’da
sujudku yang 4 rakaat kami memutuskan berangkat ke sebuah festival di sambut
dengan rintik hujan yang menyapa kami. Tiba di sebuah altar pertunjukan
festival kami masih menunggu beberapa waktu untuk menunggu teman pencerita
menyapaikan lyric dan sajak dengan syahdu.
Hmm menunggu beberapa saat bertambah lagi teman kami
yang jauh-jauh dari solo ditemani rintik hujan untuk memutuskan berbagi cerita
dengan kami, hingga kamipun bertemu dalam sebuah altar pertunjukan untuk
menantikan teman pencerita ada di tempat itu. Dalam sebuah media di kabarkan
bahwa teman pencerita akan tiba pukul 10 malam tetapi jarum jam kami sudah
menunjukan lebih dari itu, hingga jarum jam kami menunjukan tepat jam 11 malam
teman penceritapun berada dan berdiri di altar pertunjukan menyampaikan sajak
dan rima dengan alunan distorsi yang cukup menghentak kami. Sampai pada
akhirnya mereka mengingatkan saya akan sosok “JENNY” setelah mereka membacakan
alunan sajak matimuda yang dia “ JENNY” telah meninggalkan kami semua beberapa
waktu yang lalu karena matimuda. Terimakasih sebesar2nya saya ucapkan untuk kau
“JENNY” berkat engkau kini kami bisa belajar merasakan Tanah Yang Indah, kami
juga bisa belajar merasakan bagaimana kita harus melawan arus yang sudah di
gariskan dan menjadi lebih baik lagi layaknya menantang rasi bintang, dan kami
pun bisa menggambarkan sifat-sifat sekitar kita layaknya bulan, setan atau
malaikat dan paling mendasar buat kami secara lyric dan sajak yang disampaikan
kami dapat belajar BAHAGIA ITU SEDERHANA yah,terimakasih “JENNY”, I’m missing
you tapi sebuah FSTVLST telah menempatkanmu d tempat yg paling indah. Diantara
sajak yang disampaikan ada sebuah tittle yg teman pencerita sampaikan, yah
itulah menangisi akhir pekan, yang sejatinya seharusnya tidak perlu kita
tangisi tetapi di syukuri, just tittle “ Don’t Judge Book From The Cover” bukan
tentang tittle/cover tapi tentang makna atau isi didalamnya, yg mengajarkan kita berbagi bahagia.
Ketika sajak tersebut disampaikan sebuah
interpretasi dari pemikiran saya adalah kita slalu mengalami hal-hal yang
berulang-ulang itulah hari hari kita. Ketika hari-hari yang harus kita jalankan
yah itu lah SENIN sampai SABTU dimana kita harus berkerja keras, berfikir
keras, bahkan hingga berpeluh untuk menyambung hidup bagi mereka orang yang
senantiasa di berkahi Sang Pencipta karena doa yang mereka panjatkan, serta
mereka yang harus ,mengenakan seragam ataupun mereka yang harus membawa tas di
punggung dengan buku-buku didalamnya belajar untuk menjadi lebih baik. Sang
Maha Pencipta tak akan pernah tuli tak akan pernah diam dan akan selalu
mendengar suara hati ciptaanya, silahkan berkeluh kesah kepadaNya,
bersyukurlah, panjatkan doa dan keinginanmu sesunggunya dia Sang Pencipta tak
akan pernah lelah mendengarkan semua ceritamu dan keluh kesahmu.
Sebuah hadiah yang istimewa yang tanpa sadar kita
slalu menikmatinya adalah sebuah hari yah hari yang merupakan satu paling ujung
dari tujuh, dimana kita bisa merasakan berbagi bercanda bersama keluarga, teman
seperjuangan, melepaskan lelah dengan tidur lebih lelap, bahkan mengunjungi
sebuah pertunjukan untuk melepas penatpun dapat kita lakukan, melepaskan baju
perang kita yang telah kita gunakan selama enam hari. Dan di akhir ceritaku
sekali lagi saya ucapkan terimakasih teman pencerita yg tanpa lelah slalu
mengingatkan pada Sang Pencipta yang telah memberikan kami apapun nafas hingga
aliran darah yang mengalir sangat terstruktur, dengan pola ART yg sangat indah
di dalam tubuh kami, serta detak jantung yang slalu memainkan nadanya dengan
indah dan cuma engkaulah yang dapat menghentikanya. Serta terimakasih pula
untuk satu paling ujung dari tujuh, sehingga kita dapat kembali berkumpul
dengan keluarga bercanda dan berbagi cerita, berfikir kembali dan untuk sejenak
tenang sebentar mengendapkan, uraikan simpul kacaunya selama enam hari yang lalu
dan saya pun dapat diam sebentar tuk membedakan kembali yang teringinkan dan
dibutuhkan, karena kami sadar hidup itu sekali dan mati itu pasti bisa jadi
nanti atau setelah ini.
Kami merasa perlu men-Coba tulis ulang lagi yang
sejatinya kami cari di dunia ini, akhir pekan yah akhir pekan saatnya
mensudahilah sedih kami yang belum sudah, dan selayaknya kami harus slalu
segera memulai mensyukuri yang pasti akan indah. Berbahagialah sudahilah
sedihmu yang belum sudah yang slalu saja menantang. Selamat Berakhir Pekan – Selamat
Berbahagia. Terimakasih Sang Pencipta.

Komentar
Posting Komentar