#I love you're a part of my life
Beberapa waktu kembali
aku coretkan dalam sebuah garis hitam, diatas sebuah kertas A4 dengan diawali
dari sebuah titik membentuk suatu pola-pola yang seakan-akan kembali
menimbulkan sebuah bentuk yang tidak tau apakah itu. Hmmm ternyata sebuah pola
grafis yang membentuk suatu pola vintage. Masih teringat ketika beberapa waktu
lalu ada agenda besar di salah satu sudut bagian dari yogyakarta. Di sebuah
kabupaten yang cukup banyak memiliki fansbase klub sepak bola lokal, yah itulah
dia dengan kenyataan didalamnya PSS Sleman. Klub sepakbola yang paling muda
yang dimiliki yogyakarta dari beberapa klub yang ada. Agenda besar yang
tersebut adalah pembukaan Divisi Utama LPIS, yang mana liga tersebut liga resmi
ataukah bukan?. Mungkin masyarakat juga akan berfikir demikian, dengan problema
kepengurusan liga di dalamnya. Ahhhh Sudahlah, tidak peduli dengan apa yang
atasan-atasan mafia sepakbola tersebut lakukan. Kembali pada sebuah pembukaan
liga, beberapa hari memang sudah terdengar gemanya bagi pecinta sepak bola
khususnya di kota gudeg yang mana pembukaan tersebut akan dilakukan di MIS,
Maguwo International Stadium.
Beberapa hari yang sangat di tunggu oleh publik jogja khususnya sleman. Tidak ketinggalan pula saya sebagai seorang pelaku pecinta bola, ingin menyaksikan sebuah opening ceremony yang dilakukan pihak LPIS yang notabenya organisainya terlihat seperti carut marut yang tak kunjung usai, Sebenarnya kami pecinta bola lokal lelah melihat apa yg mereka lakukan. Sampai saat sebelum opening dimulai saya selalu mencek sebuah akun yang cukup sering saya melihatnya di Recent Update twitter, yah benar sekali akun tersebut adalah milik @BCSXPSS_1976, supporter ultras milik PSS sleman. Di beberapa twittnya memang mensarankan untuk para penonton yang akan menyaksikan Opening Ceremony untuk membawa masker. Dalam benaku apa yg akan dilakukan supporter ultras ini?. Hingga tiba beberapa jam sebelum opening dimulai, saya dan adik saya pun bersiap menuju ke MIS untuk menyaksikan agenda tersebut. Sesampainya di MIS sudah banyak penonton yang berduyun-duyun untuk menuju stadion, tidak lupa pula para supporter tim lawan yang rela datang dari purbalingga untuk mendukung tim mereka, itulah salah satu bukti loyalitas klub lokal masih sangat kental.
Akhirnya saya putuskan pada saat itu untuk membeli tiket di tribun merah, notabenya harga tiket yang cukup mahal untuk pertandingan sekelas divisi utama, atau bahkan lebih mahal daripada tiket menonton di bioskop, tp sudahlah memang sudah saya niatkan untuk menuju stadion tersebut. Sebelum FIFA athem dimulai saya melihat beberapa orang berbaju hitam dari arah selatan menuju utara, merangsek naik di atas pagar stadion sampai memenuhi seluruh pagar stadion. Dan FIFA athem di lantunkan, terlihat mereka yang berbaju hitam langsung menyalakan beberapa flare yg sepertinya sudah mereka siapkan, waw its amazing, dude!! This isn’t EUROPA! This isn’t ISTANBUL! This Is SLEMAN! Seluruh stadion terasa terbakar dengan ratusan flare yang dinyalakan memutari stadion, mungkin hampir setengah juta flare dinyalakan, betapa semangatnya mereka mendukung tim lokal kebanggaan mereka yang berharap prestasi yg lebih baik dari PSS Sleman.
Ingatanku kembali ke beberapa tahun yang telah berlalu disaat klub lokal sleman tersebut masih berlaga di stadion mandala krida, saat itu mungkin saya masih SD menyaksikan klub tersebut bertanding dengan menggunakan sepeda kecil bersama teman-teman datang ke stadion hanya untuk mendukung tim lokal itu, sampai ketika klub tersebut pindah ke stadion yang jaraknya cukup jauh bagi saya ketika waktu itu harus bersepeda ke stadion tridadi di ujung sleman sana. Beberapa waktu pula masih ingat di benaku saya berkunjung ke stadion tersebut dengan ayah saya untuk melihat tim tersebut berlaga, dan mungkin saya akan terus berdoa agar ayah saya segera kembali seperti kondisi sedia kala dan mengajaknya ntn kembali klub yg dulu pernah kami lihat. Ayah segeralah sembuh, dan ayuh kita lihat lagi bola seperti dulu, sekarang PSS sudah tidak seperti dulu lagi, PSS sekarang lebih baik dari yang dulu dengan fansbase yg penuh loyalitas dan totalitas mereka. Hal tersebut di buktikan ketika memasuki stadion telihat tulisan spanduk besar menyambut saya dan adik saya yang berbunyi. KAMI RESIGN DEMI PSS, itulah salah satu bentuk pengorbanan yang dilakukan mereka, semoga manajemen mendengar dan membaca agar menjadi evaluasi dan menjadi penyulut semangat bahwa sudah saatnya PSS Juara. Kerja keras tak akan pernah sia-sia mungkin itu yang menjadi prinsip para supporter BCS dan Slemania. Hingga sayup sayup terdengar suara chants dari tribun selatan bernada I love you sleman you’re a part of my life. Dan di akhiri dengan sebuah chants Padamu Sleman, waw sungguh loyalitas yg tak terbatas yg berharap yg terbaik untuk klub yg di dukungnya, peluh, lelah, tak pernah di perdulikan selama 90 menit tetap berdiri tegak meneriakan semangat untuk tim yg di dukungnya.
Kembali pada titik awal tadi sebuah goresan mulai titik hitam di awal yg membentuk sebuah vintage, mensajikan sebuah ARTwork grafis yg ternyata saya tujukan untuk salah satu komunitas BCS yah mereka adalah BFE (Black From East) sebuah komunitas dengan penuh keloyalanya dari sektor timur MIS untuk mendukung PSS Sleman, Selamat berjuang teman, keringat dan suaramu tak akan pernah mati. Support Local!
Yah inilah saya seorang yang berkelahiran Bantul yang merupakan salah satu dari 2 buah hati dari ayahku yg kelahiran Bandung dan ibu yang kelahiran Sleman, kami tinggal di salah satu ujung kota bantul dan mendekati perbatasan kota Yogyakarta, bukan tidak mensupport yg lain tetap saya mensupport local klub PERSIB BANDUNG, PERSIBA BANTUL, PSIM YOGYAKARTA, untuk terus bangkit melawan politisasi persepakbolaan indonesia yg sudah saatnya menjadi profesional, tapi ketika hati berbicara? hingga akhirnya saya sadar klub ini telah banyak memberiku cerita yg akhirnya kutuliskan juga. Inilah sepenggal kisahku dan klub yg aku tersadar telah saya dukung sejak dulu. Terbanglah Tinggi Eljaku 20 (1) 13 sudah saatnya kalian juara. This is Football not a crime!
Beberapa hari yang sangat di tunggu oleh publik jogja khususnya sleman. Tidak ketinggalan pula saya sebagai seorang pelaku pecinta bola, ingin menyaksikan sebuah opening ceremony yang dilakukan pihak LPIS yang notabenya organisainya terlihat seperti carut marut yang tak kunjung usai, Sebenarnya kami pecinta bola lokal lelah melihat apa yg mereka lakukan. Sampai saat sebelum opening dimulai saya selalu mencek sebuah akun yang cukup sering saya melihatnya di Recent Update twitter, yah benar sekali akun tersebut adalah milik @BCSXPSS_1976, supporter ultras milik PSS sleman. Di beberapa twittnya memang mensarankan untuk para penonton yang akan menyaksikan Opening Ceremony untuk membawa masker. Dalam benaku apa yg akan dilakukan supporter ultras ini?. Hingga tiba beberapa jam sebelum opening dimulai, saya dan adik saya pun bersiap menuju ke MIS untuk menyaksikan agenda tersebut. Sesampainya di MIS sudah banyak penonton yang berduyun-duyun untuk menuju stadion, tidak lupa pula para supporter tim lawan yang rela datang dari purbalingga untuk mendukung tim mereka, itulah salah satu bukti loyalitas klub lokal masih sangat kental.
Akhirnya saya putuskan pada saat itu untuk membeli tiket di tribun merah, notabenya harga tiket yang cukup mahal untuk pertandingan sekelas divisi utama, atau bahkan lebih mahal daripada tiket menonton di bioskop, tp sudahlah memang sudah saya niatkan untuk menuju stadion tersebut. Sebelum FIFA athem dimulai saya melihat beberapa orang berbaju hitam dari arah selatan menuju utara, merangsek naik di atas pagar stadion sampai memenuhi seluruh pagar stadion. Dan FIFA athem di lantunkan, terlihat mereka yang berbaju hitam langsung menyalakan beberapa flare yg sepertinya sudah mereka siapkan, waw its amazing, dude!! This isn’t EUROPA! This isn’t ISTANBUL! This Is SLEMAN! Seluruh stadion terasa terbakar dengan ratusan flare yang dinyalakan memutari stadion, mungkin hampir setengah juta flare dinyalakan, betapa semangatnya mereka mendukung tim lokal kebanggaan mereka yang berharap prestasi yg lebih baik dari PSS Sleman.
Ingatanku kembali ke beberapa tahun yang telah berlalu disaat klub lokal sleman tersebut masih berlaga di stadion mandala krida, saat itu mungkin saya masih SD menyaksikan klub tersebut bertanding dengan menggunakan sepeda kecil bersama teman-teman datang ke stadion hanya untuk mendukung tim lokal itu, sampai ketika klub tersebut pindah ke stadion yang jaraknya cukup jauh bagi saya ketika waktu itu harus bersepeda ke stadion tridadi di ujung sleman sana. Beberapa waktu pula masih ingat di benaku saya berkunjung ke stadion tersebut dengan ayah saya untuk melihat tim tersebut berlaga, dan mungkin saya akan terus berdoa agar ayah saya segera kembali seperti kondisi sedia kala dan mengajaknya ntn kembali klub yg dulu pernah kami lihat. Ayah segeralah sembuh, dan ayuh kita lihat lagi bola seperti dulu, sekarang PSS sudah tidak seperti dulu lagi, PSS sekarang lebih baik dari yang dulu dengan fansbase yg penuh loyalitas dan totalitas mereka. Hal tersebut di buktikan ketika memasuki stadion telihat tulisan spanduk besar menyambut saya dan adik saya yang berbunyi. KAMI RESIGN DEMI PSS, itulah salah satu bentuk pengorbanan yang dilakukan mereka, semoga manajemen mendengar dan membaca agar menjadi evaluasi dan menjadi penyulut semangat bahwa sudah saatnya PSS Juara. Kerja keras tak akan pernah sia-sia mungkin itu yang menjadi prinsip para supporter BCS dan Slemania. Hingga sayup sayup terdengar suara chants dari tribun selatan bernada I love you sleman you’re a part of my life. Dan di akhiri dengan sebuah chants Padamu Sleman, waw sungguh loyalitas yg tak terbatas yg berharap yg terbaik untuk klub yg di dukungnya, peluh, lelah, tak pernah di perdulikan selama 90 menit tetap berdiri tegak meneriakan semangat untuk tim yg di dukungnya.
Kembali pada titik awal tadi sebuah goresan mulai titik hitam di awal yg membentuk sebuah vintage, mensajikan sebuah ARTwork grafis yg ternyata saya tujukan untuk salah satu komunitas BCS yah mereka adalah BFE (Black From East) sebuah komunitas dengan penuh keloyalanya dari sektor timur MIS untuk mendukung PSS Sleman, Selamat berjuang teman, keringat dan suaramu tak akan pernah mati. Support Local!
Yah inilah saya seorang yang berkelahiran Bantul yang merupakan salah satu dari 2 buah hati dari ayahku yg kelahiran Bandung dan ibu yang kelahiran Sleman, kami tinggal di salah satu ujung kota bantul dan mendekati perbatasan kota Yogyakarta, bukan tidak mensupport yg lain tetap saya mensupport local klub PERSIB BANDUNG, PERSIBA BANTUL, PSIM YOGYAKARTA, untuk terus bangkit melawan politisasi persepakbolaan indonesia yg sudah saatnya menjadi profesional, tapi ketika hati berbicara? hingga akhirnya saya sadar klub ini telah banyak memberiku cerita yg akhirnya kutuliskan juga. Inilah sepenggal kisahku dan klub yg aku tersadar telah saya dukung sejak dulu. Terbanglah Tinggi Eljaku 20 (1) 13 sudah saatnya kalian juara. This is Football not a crime!





sejatinya menonton sepak bola dengan euforia meriah di stadion itu menyenangkan,,, hahaha
BalasHapushaha yeah right! dan saya melakukan nya lagi :D hhoo senangnya menjadi bagian dari sebuah pergerakan,,, hahah
Hapus