#Senyumkan Sekitar
Satu persatu
teman-temanku meninggalkan kota ini yah, kota yogyakarta dimana dulu kita
saling bercengkrama, berbagi cerita, berbagi tawa dan dimana kita mengawali
perjalanan sebelum menuju kota-kota seberang yang akan kita jelajah. Saya
merindukan itu teman-temanku. Mungkin tidak hanya saya tapi juga kalian akan
merasakan rindu yang sama denganku. Dan ini lebih dari itu. Kerinduan yang
lebih mendalam yah lebih dan lebih lagi. Sebenarnya saya ingin menuliskan ini
sebelum hari memasuki bulan ke delapan. Tapi tak masalah biarkan ini
tersampaikan saja. Tepat kemarin yah kemarin hari terakhir di bulan ke tujuh
tahun ini tiba-tiba saya mendapatkan sms dari teman saya yang kebetulan seorang
guru di alam bahasa, yang meminta saya untuk menemani seorang yang berwarga
kenegaraan jerman untuk sekedar menikmati sore di kauman, saya yang tidak terlalu bisa
dalam bahasa asing mencoba mencari teman untuk menemani saya, kebetulan juga
sih karena g ada kendaraan di rumah, pas di pakai semua, jadi sekali melangkah
2-3 pulau terlampaui lah pengenya.. jadilah saya mengajak teman-teman saya via
bbm. Tapi bukan hal itu yang saya bahas disini, melainkan dari obrolan saya
bersama teman saya yang satu persatu tidak bisa menemani saya, di karenakan
akan kembali ke kampung halamanya. Hingga saya pun mengobrol dengan teman saya
yang bernama comprong. Yah si penggemar vespa ini mengajak saya bersajak via
bbm, yang kini kembali pula ke rumahnya.
Lagi-lagi tentang
hidup, entah kenapa saya tak pernah bosan membicarakan tentang hidup.hingga
unek unek didalamnya, tentang politik lah, hubungan manusia dengan tuhan-nya ,
manusia dengan alam, manusia dengan manusia. Yah masih seputar itu. Bukan sok
paham tentang hidup dan seisinya, melainkan keinginan untuk sekedar mengetahui
saja. Dan tanpa berfikir panjang kami pun memulai sajak kami yang entah menjadi
sebuah puisi dengan rima tanpa arah, ataupun menjadi seonggrok kalimat yang tak
tertuliskan tanpa sebuah makna, tapi kami menikmatinya.
Kebanyakan orang di
perbudak atas ambisinya
Merelakan apapun
Sudahilah sudah biarkan
mereka menjadi yang mereka inginkan
Dan biarkan aku tetap
apa adanya saja
Dengan kebahagiaan yang
selalu terbagikan
Sudah rusak sudah
Karenakan punya kuasa
yang harusnya tak melulu menguasai
Andaikan saja mereka
berbagi
Hanya demi uang, uang
dan uang
Melulu uang yang mereka
tuhankan? Yang sejatinya mereka yang memperbudak kita
Hingga lupa masih ada
tuhan yang hakiki
Sudahlah sudah, biarkan
dia berbahagia dengan kehidupanya, sebaliknya.
Ketika
di mata tuhan sebuah kesetaraan itu ada, yg membedakan iman dan kekuatan doa yg
mereka panjatkan.
Hanya
manusia sajalah yg membuat kesetaraan itu hilang entah kemana dengan
kesombongan2 yg mereka tunjukan.
Ambisi
didepankankan, saling menusuk dari belakang
Senyumkan
saja sekitar, yg kadang hal kecil ini akan terbagikan sebuah kebahagian di
dalamnya.
Dan senja pun menjemput
gelap, hingga kami menyelesaikan sajak yang terceploskan dari kalimat-kalimat
kami. Malam pun tiba saatnya berbuka puasa dan beranjak ke shalat taraweh
hingga selesai dan kembali bbm saya berbunyi. Yah dari teman saya itu si
compronk yang mengabarkan baru sampai rumah. Dan saya pun langsung membalasnya
dengan kalimat. “Salam buat Bapak Ibuk di rumah”. Selamat berproses menjadi
anak yang lebih berbakti kepada orang tua. Kemudian teman saya pun menjawab
lagi “berusaha tidak merepotkan ortu”. Hingga saya memasang DP saya dengan
kalimat I LOVE U MOM, . dan kembali teman saya merespon “Ibuku ora dong” haha. Kembali
ku jawab sampaikan saja sayangmu pada ortumu”. Hingga obrolan-obrolan berlanjut
kembali dengan kata-kata kiasan yang sering kita gunakan, kita memang sok seni
memang. Haha tapi lagi lagi kami menikmati.
Roda yang sangat tua ini rewel, tapi
aku kudu sabar
Mboh
pie carane
Mungkin
dia pingin aku tau isi hati dia
Sampaikan
saja isi hatimu
Lebih
dalam dan sangat dalam, andaikan dia bisa bicara
Apa
sih mau mu, tapi sudahlah
Semoga
semakin saya tua semakin bisa membahagiakan.
Hmm yah orang tua, keluarga di rumah sudah menunggu
hingga satu persatu kalimat “Salam buat Bapak Ibuk di rumah”. Selamat berproses
menjadi anak yang lebih berbakti kepada orang tua” saya share ke beberapa
temanku yang telah melakukan perjalanan ke daerahnya masing masing. Itulah sebuah
kerinduan, kerinduan untuk memeluk mencium orang tua di rumah yang telah lama
menunggu kita. Kita yang semakin tumbuh dan tumbuh menjadi dewasa yang dulu
masih pak buk sekarang sudah berani menjelajah kota lain dengan harapan sejuta
prestasi di rengkuh. Kata yang terlintas ketika saya berfikir akan hal itu “Senyumkan
Sekitar”. Iya sekitarmu tak hanya keluarga, teman, pacar, sahabat, tak hanya
itu tapi semua hal yang di sekitarmu, dengan kelebihanmu, prestasimu, canda
tawamu dsb, hingga tuhanmu dengan ayat-ayat doa yang kamu panjatkan tiap
harinya, sujud syukurmu yang slalu kau berikan tiap waktu. Sesungguhnya Tuhan
Maha Mengetahui apa yang kamu lakukan.
Salam dariku,
Untuk senyuman di sekitarmu.

Komentar
Posting Komentar